Sabtu, 21 Oktober 2017

Peran Guru dalam Pembelajaran

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


Image result for belajar dan pembelajaran


Peran guru dalam pembelajaran
Guru merupakan salah satu unsur di bidang kependidikan yang harus berperan secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Dalam hal ini guru tidak semata mata sebagai pengajar yang melakukan transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai pendidik yang melakukan transfer nilai-nilai sekaligus sebagai pembimbing yang memberikan pengarahan dan menuntun siswa dalam belajar.

Guru dalam fungsinya sebagai pengajar, pendidik dan pembimbing maka diperlukan adanya berbagai peran pada diri guru. Peran akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan dalam berbagai interaksi belajar mengajar yang dapat dipandang sebagai sentral bagi peranannya. Sebab baik disadari atau tidak bahwa sebagian dari waktu dan perhatian guru banyak dicurahkan untuk menggarap proses belajar mengajar dan berinteraksi dengan siswanya. 

Menurut Wrightman, (dalam Usman, 2006:4) Peran guru merupakan terciptanya serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam situasi tertentu serta berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa menjadi tujuannya. 

Mengenai apa peran guru itu ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli (Sardiman, 2001: 143-144) yaitu
1. Prey Katz menggambarkan peran guru sebagai komunikator, sahabat yang dapat memberikan nasihat-nasihat, motivator sebagai pemberi inspirasi dan dorongan, pembimbing dalam pengembangan sikap dan tingkah laku serta nilai-nilai orang yang menguasai bahan yang diajarkan.
2. Havighurst menjelaskan bahwa peran guru di sekolah sebagai Pegawai (employed) dalam hubungan kedinasan, sebagai Bawahan (subordinate) terhadap atasannya, sebagai kolega dalam hubungannya dengan anak didik, sebagai pengatur disiplin, dan pengganti orang tua.
3. James W. Brown mengemukakan bahwa tugas dan peran guru antara lain: menguasai dan menggambarkan materi pelajaran, merencanakan dan mempersiapkan palajaran sehari-hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa

Dengan memperhatikan kajian Pullias dan Young (1988), Manan (1990), serta Yelon and Weinstein . (1997), dapat diidentifikasikan sedikitnya 19 peran guru, yakni guru sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaharu (innovator), model dan teladan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pemindah kemah, pembawa ceritera, aktor, emansipator, evaluator, pengawet, dan sebagai kulminator, (Mulyasa, 2005 : 137).
Tetapi dari 19 peran diatas, dibawah ini hanya akan dijelaskan 6 peran saja, yang menurut penulis memiliki relevansi langsung dengan proses pembelajaran saat ini yang perlu diterapkan. 

1. Guru sebagai Pendidik
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggung jawah, wibawa, mandiri, dan disiplin. Berkaitan dengan tanggung jawab yaitu guru harus mengetahui, serta memahami nilai, norma moral, dan sosial. Guru juga harus bertanggung jawab terhadap segala tindakannya dalam pembelajaran di sekolah, dan dalam kehidupan bermasyarakat. Berkenaan dengan wibawa guru harus memiliki kelebihan dalam merealisasikan nilai spiritual, emosional, moral, sosial, dan intelektual dalam pribadinya, serta memiliki kelebihan dalam pemahaman ilmu. pengetahuan, teknologi, dan seni sesuai dengan bidang yang dikembangkan.

2. Guru sebagai Pengajar
Sejak adanya kehidupan, sejak itu pula guru telah melaksanakan pembelajaran, dan memang hal tersebut merupakan tugas dan tanggung jawabnya yang pertama dan utama. Guru membantu peserta didik yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya, membentuk kompetensi, dan memahami materi standar yang dipelajari. 

3. Guru sebagai pembimbing
Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan (Guide), yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bcrtanggung jawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral, dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks. Sebagai pembimbing, guru harus merumuskan tujuan secara jelas, menetapkan waktu perjalanan, menetapkan jalan yang harus ditempuh, menggunakan petunjuk perjalanan, serta menilai kelancarannya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik. Semua itu dilakukan berdasarkan kerjasama yang baik dengan peserta didik, tetapi guru memberikan pengaruh utama dalam setiap aspek perjalanan. Sebagai pembimbing, guru memiliki berbagai hak dan tanggung jawab dalam setiap perjalanan yang direncanakan dan dilaksanakannya, (Hisyam, 2002 : 8-10)

4. Guru sebagai penasehat
Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang. Banyak guru cenderung menganggap bahwa konseling terlalu banyak membicarakan klien, seakanakan berusaha mengatur kehidupan orang, dan oleh karenanya mereka tidak senang melaksanakan fungsi ini. Padahal menjadi guru pada tingkatmanapun berarti menjadi penasehat dan menjadi orang kepercayaan, kegiatan pembelajaranpun meletakannya pada posisi tersebut, (Marimba, 1998 : 69)

5. Guru sebagai pendorong Kreatifitas 
Kreatifitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran, dan guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukkan proses kreativitas tersebut. Kreatifitas merupakan sesuatu yang bersifat universal dan merupakan ciri aspek dunia kehidupan di sekitar kita. Kreatifitas ditandai oleh adanya kegiatan menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan tidak dilakukan oleh seseorang atau adanya kecenderungan untuk menciptakan sesuatu. 

6. Guru sebagai Evaluator
Evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variabel lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Tidak ada pembelajaran tanpa penilaian, karena penilaian merupakan proses menetapkan kualitas hasil belajar, atau proses untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran oleh peserta didik, (Nurudin, 2002 : 143)

Sedangkan menurut Sanjaya (2007:21) pembelajaran ia mengemukakan bahwa peran guru dalam proses pembelajaran yaitu
.
1. Guru sebagai sumber belajar
Peran guru sebagai sumber belajar merupakan peran yang sangat penting. Peran sebagi sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan bahan materi pelajaran. Kita bisa menilai baik atau tidaknya seorang guru hanya dari penguasaan materi pelajaran. Dikatakan guru yang baik manakala ia dapat menguasai materi pelajaran dengan baik, sehingga benar-benar ia berperan sebagai sumber belajar bagi peserta didiknya.

2. Guru sebagai fasilitator
Sebagai fasilitator, guru berperan dalam memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran. Misalnya memberikan penjelasan kepada siswa yang tidak mampu dalam menguasai salah satu mata pelajaran. 

3. Guru sebagai pengelola kelas
Sebagai pengelola pembelajaran (learning manajer), guru berperan dalam iklim belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara aktif dan nyaman. Melalui pengelolaan kelas yang baik guru dapat menjaga kelas agar tetap kondusif untuk terjadinya proses belajar seluruh siswa.

4. Guru sebagai demonstrator
Yang dimaksud dengan peran guru sebagai demonstrator adalah peran untuk mempertunjukan kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan yang disampaikan. Ada dua konteks guru sebagai demonstrator. Pertama, sebagai demonstrator guru harus menunjukan sifatsifat yang terpuji. Kedua, sebagai demonstator harus dapat menunjukan bagaimana caranya agar setiap materi pelajaran bisa lebih dipahami dan dihayati oleh setiap siswa.

5. Guru sebagai pembimbing 
Siswa adalah individu yang unik, keunikan itu bisa dilihat dari adanya setiap perbedaan. Artinya, tidak ada dua individu yang sama. Walaupun secara fisik mungkin individu memiliki kemiripan, tetapi pada hakekatnya mereka tidaklah sama, baik dalam bakat, minat, kemampuan, dan sebagainya. Perbedaan itulah menuntut guru harus berperan sebagai pembimbing. Membimbing siswa agar dapat menemukan berbagai potensi yang dimilikinya sebagai bekal hidup mereka, membimbing siswa agar dapat mencapai dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan mereka, sehingga dengan ketercapaian itu dapat tumbuh dan berkembang sebagai manusia ideal yang menjadi harapan setiap orang tua dan masyarakat.

6. Guru sebagai motivator
Dalam proses pembelajaran, motivasi merupakan salah satu aspek dinamis yang sangat penting. Sering siswa yang kurang berprestasi bukan disebabkan oleh kemampuannya yang kurang, tetapi dikarenakan tidak adanya motivasi untuk belajar sehingga ia tidak berusaha untuk mengerahkan segala kemampuannya. 

7. Guru sebagai evaluator
Sebagai evaluator, guru berperan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan. Terdapat dua fungsi guru dalam memerankan perannya sebagai evaluator. Pertama, untuk menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Kedua, untuk menentukan keberhasilan dalam melaksanakan seluruh kegiatan yang telah diprogramkan.


Daftar Pustaka 

A.M. Sardiman. (2001). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja GrafindoPersada.
Hisyam Zaini, dkk. (2002). Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: CTSD IAIN Sunan Kalijaga
Marimba Ahmad. (1998). Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Al-Ma’arif
Mulyasa. (2005). Menjadi Guru, Menciptakan Pelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Nurudin Syafrudin. (2002). Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum. Jakarta : Ciputat Press
Sanjana, Wina. (2007). Stretegi Pembelajaran. Jakarta : Kencana
Usman, Husini. (2006). Manajemen Teori Praktik dan Riset Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara
Walid, M Mudri. (2010). Kompetensi dan Peranan Guru dalam Pembelajaran. Jember : Jurnal Falasifa. Vol. 1 .No. 1. Hal 116-121

Kamis, 12 Oktober 2017

Ekspose KKL 2017

“EKSPOSE KULIAH KERJA LAPANGAN PENDIDIKAN GEOGRAFI”


UPI Bandung_ Departemen Pendidikan Geografi Universitas Pendidikan Indonesia mengadakan Ekspose Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Auditorium lantai 6 Gedung Nu’man Somantri FPIPS, hari Kamis, 12 Oktober 2017.

Kuliah Kerja Lapangan merupakan salah satu program akademik yang dilakukan di lapangan untuk mempelajari dan memahami aspek-aspek geografi secara langsung dalam asosiasi keruangan, sebagai bagian integral dari perkuliahan yang dilakukan di dalam kelas. Tujuan KKL sendiri untuk membekali mahasiswa agar memiliki keterampilan dan kemampuan analisis dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.

Ekspose merupakan bagian dari tahap pelaksanaan KKL yang telah dilakukan diantaranya tahap persiapan, pelaksanaan lapangan, dan pelaporan. Pemaparan hasil Kuliah Kerja Lapangan yang dilakukan oleh mahasiswa Pendidikan Geografi angkatan 2014, 2015, dan 2016 di depan para audiens dan dosen. Berharap dengan adanya ekspose ini, mahasiswa dapat mempertanggungjawabkan hasil pengamatan selama dilapangan.

Dalam Pedoman Praktikum Kerja Lapangan, KKL terdiri dari 3 tahap diantaranya Identifikasi, Komparasi, dan Ploblem Solving. Hal ini yang menjadi tema utama yang perlu dikaji oleh mahasiswa Pendidikan Geografi angkatan 2014, 2015, dan 2016 dengan lokasi yang berbeda sesuai kajian masing-masing.

Kuliah Kerja Lapangan tahap 1 dilaksanakan di Pangandaran sebagai lokasi pengamatan, dengan tema "Identifikasi Karakteristik Desa dalam Memajukan Pariwisata di Wilayah Pangandaran, Jawa Barat" dengan lokasi kajian Desa Babakan, Cikembulan, Wonoharjo, Pananjung, dan Pangandaran.


 (Penyampaian hasil pengamatan KKL tahap 1 oleh Ahmad Firli)

Kemudian Kuliah Kerja Lapangan tahap 2 dilaksanakan di luar wilayah Jawa Barat, dengan mengusung tema “Komparasi Pembangunan Desa EMAS (Elok, Mandiri, Asri, dan Sejahtera) di Kabupaten Terluas di Ujung Timur Pulau Jawa Banyuwangi” dengan lokasi kajian Desa Blimbingsari, Kemiren, Patoman, Banjar, Tamansari, dan Kampung Anyar.



(Dr. Hj. Epon Ningrum, M.Pd sedang memberikan pertanyaan kepada penyaji KKL Tahap 2 yaitu Ikhsan Khoirul Anam, Cucu Daryamah, Ratu Nabillah, dan Ardhy Muhammad Firman)

Sedangkan Kuliah Kerja Lapangan tahap 3 berbeda dengan KKL tahap 1 dan 2 yang dilakukan di luar Pulau Jawa, yaitu di Pulau Belitung dengan tema “ Problem Solving Pembangunan Pedesaan di Pulau Belitung” dengan lokasi kajian yaitu Kecamatan Membalong, Badau, Kalapa Kampit, Manggar, Gantung, Tanjung Pandan, Sijuk, dan Simpang Pesak. 


 (Penyampaian hasil pengamatan KKL tahap 3 oleh Adi Setiadi, Mega Siti Fatimah, Luthpi Padhlulloh, dan Silvananda)


Dengan adanya Kuliah Kerja Lapangan (KKL), diharapkan mahasiswa mampu memahami fenomena di lingkungan sekitar berdasarkan keilmuan Geografi yang telah dipelajari pada saat perkuliahan serta melalui kegiatan KKL, mahasiswa dapat berpartisipasi aktif dalam memperkenalkan potensi yang dimiliki setiap wilayah kajian sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. (*Wiganda)

Sabtu, 07 Oktober 2017

Latihan Kepemimpinan Mahasiswa

“ MENUMBUHKAN JIWA KEPEMIMPINAN MELALUI KEGIATAN

LATIHAN KEPEMIMPINAN MAHASISWA (LKM) ”




UPI Bandung_ Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi  Universitas Pendidikan Indonesia, mengadakan kegiatan Latihan Kepemimpinan Mahasiswa untuk seluruh mahasiswa baru Pendidikan Geografi 2017 di Auditorium Gd, Geugeut Winda (PKM), pada hari Sabtu, 07 Oktober 2017.

Latihan Kepemimpinan Mahasiswa merupakan rangkaian kegiatan kaderisasi, dengan tema “Mewujudkan Jiwa Kepemimpinan dalam Mengembangkan Sikap Kritis yang Beretika Menuju Generasi Sinergi” dengan mengusung tema tersebut, Lintang Mayori selaku ketua pelaksana LKM mengaharapkan mahasiswa baru Pendidikan Geografi 2017 dapat mengembangkan potensi dirinya sebagai mahasiswa yaitu memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, menumbuhkan pemikiran yang kritis, dan mengembangkan intelektual.


Pematerian oleh Faiz Urfan, M.Pd dengan tema “Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan untuk Mengembangkan Sikap dan Karakter”


Pematerian oleh Ani Apriani, S.Pd dengan tema “ Menumbuhkan Jiwa Organisasi Tinggi"


Pematerian oleh Ahmad Fauzi Ridwan ( Presiden BEM REMA UPI 2017) dengan tema “ Etika Beretorika yang Baik dan Benar"

Harapan serupa diutarakan Abdul Halim Muwahhid selaku ketua BEM HMP Geografi bahwa melalui LKM diharapkan mahasiswa baru Pendidikan Geografi 2017 agar menjadi mahasiswa yang mempunyai intelektual tinggi, mampu bergerak harmoni yang menghasilkan sinergi dan menjadi generasi penerus, bahkan generasi baru yang diharapkan.

Wiganda
Mahasiswa Pendidikan Geografi 2015
Universitas Pendidikan Indonesia





Minggu, 01 Oktober 2017

Peringatan Hari Besar Lingkungan

Mahasiswa Pendidikan Geografi UPI Memperingati Hari Ozon Sedunia

di Car Free Day Kota Bandung


(17/09/2017) Bandung, Badan Eksekutif Mahasiswa Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas Pendidikan Indonesia tadi pagi memperingati salah satu hari besar lingkungan yakni Hari Ozon Sedunia di kawasan Car Free Day tepatnya di Jalan Ir. H. Juanda (Dago), Bandung.

Peringatan Hari Besar Lingkungan (PHBL) menjadi kegiatan rutin yang dilakukan oleh mahasiswa Pendidikan Geografi sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan saat ini yang telah mengalami penurunan kualitas secara signifikan.

Penipisan lapisan ozon di stratosfer kini menjadi salah satu masalah lingkungan bagi masyarakat bumi. Melalui peringatan Hari Ozon Sedunia pada tanggal 16 September diharapkan masyarakat tidak lagi awam terhadap istilah lapisan ozon dimana saat ini kondisinya semakin menipis bahkan konsentrasi ozon di atas Kutub Selatan semakin berkurang. Lapiran ozon memiliki sifat menyerap sinar ultraviolet yang berasal dari matahari. Dengan adanya lapisan ozon, maka hanya sebagian kecil sinar ultraviolet yang sampai ke permukaan bumi. Salah satu penyebab menipisnya lapisan ozon ialah gas CFC (Chloro Floro Carbons) yang naik ke udara sehingga mengurangi konsentrasi lapisan ozon. Gas pencemar ini biasanya terdapat pada barang buatan manusia, seperti lemari es, pendingin udara, semprotan aerosol dan insektisida.

Rusaknya lapisan ozon di stratosfer dapat menyebabkan sinar ultraviolet mencapai ke permukaan bumi dalam jumlah yang melebihi ambang batas. Hal ini sangat berbahaya terhadap kelangsungan makhluk hidup di bumi. Pengaruh berbahaya tersebut antara lain menimbulkan kanker kulit, katarak, dan merusak pertumbuhan tanaman.


Kita diharapkan lebih peka terhadap penurunan kualitas lingkungan sekitar, terutama memahami pentingnya menanam pohon. Kemudian kita harus menjadi generasi peduli untuk sinergi menjaga bumi, ujar Ulfah Fachrita selaku ketua pelaksana kegiatan Peringatan Hari Besar Lingkungan (PHBL).


(Masyarakat Kota Bandung sedang mengambil pohon gratis yang dibagikan oleh mahasiswa Pendidikan Geografi UPI Bandung )


Abdul Halim Muwahhid selaku Ketua BEM HMP Geografi UPI berharap dengan adanya peringatan Hari Ozon Sedunia ini, kita semakin sadar pentingnya memperbaiki lingkungan dengan cara menanam pohon. Karena menanam pohon kita bisa memberikan kontribusi terhadap keadaan oksigen di lingkungan sekitar.

Penulis : Wiganda
Mahasiswa Pendidikan Geografi 2015
Universitas Pendidikan Indonesia

Kunjungan Mahasiswa Pendidikan Geografi UPI ke Banyuwangi

Kuliah umum "Strategi Pembangunan Daerah dan Pariwisata"



(15/05/2017) Mahasiswa pendidikan geografi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sedang melaksanakan kuliah umum dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banyuwangi dimana acara ini merupakan suatu rangkaian dalam kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) tahap 2 dengan tema " Komparasi Pembangunan Desa EMAS (Elok, Mandiri, Asri, dan Sejahtera)  di kabupaten terluas di ujung timur pulau jawa.

Dr. Ahmad Yani, M.Si selaku ketua departemen pendidikan geografi memaparkan bahwa KKL merupakan kegiatan tahunan yang diberikan kepada mahasiswa pendidikan geografi untuk memperkenalkan wilayah yang ada di Indonesia, dalam KKL tahap 2 ini mahasiswa diharapkan dapat mengkomparasi setiap desa yang ada di kabupaten Banyuwangi dengan wilayah kajian yaitu daerah pesisir, dataran, dan pegunungan.

Banyuwangi merupakan kabupaten paling luas di daerah provinsi jawa timur dengan jumlah penduduk 1.594.083 jiwa. Dengan mata pencaharian penduduk yang heterogen misalnya pertanian, pedagang, nelayan dll. (Bappeda Kab. Banyuwangi). Amir Hidayat selaku perwakilan Bappeda menuturkan bahwa dalam pembangunan yang diterapkan di kab. Banyuwangi memiliki 3 program unggulan yaitu di bidang pertanian, pariwisata, dan UMKM (Usaha Masyarakat Kecil dan Menengah).

Dengan letak yang stategis dan memiliki keindahan alam yang mempesona Banyuwangi memanfaatkan sektor pariwisata yang dimiliki sebagai tempat destinasi wisata baik nasional ataupun internasional. Dwi Marhen Yono S, STP, M.Si selaku pihak Dinas Pariwisata, Kabupaten Banyuwangi menerapkan konsep ecotourism concept yaitu bentuk wisata yang mandatangi tempat yang masih alami dengan tujuan khusus belajar, menghormati, dan menikmati pemandangan, tumbuhan, dan binatang liar, serta budaya setempat.

Dalam meningkatkan pariwisata di kabupaten Banyuwangi pemerintah menerapkan empat kunci dalam meningkatkan kinerja pariwisata yaitu pertama, Aktraksi dengan cara membuat kalender event tahunan. Kedua, Amenitas yaitu membangun infrastruktur penunjang.  Ketiga, Aksesibiltas yaitu dengan membangun akses yang baik untuk mempermudah akses pengunjung datang ke daerah ini.  Keempat Ancillary yaitu dengan melibatkan beberapa organisasi pendukung dengan melibatkan semua elemen lapisan masyarakat. 

Adapun destinasi wisata yang terdapat di daerah kabupaten Banyuwangi yaitu kawah Ijen, Pantai Pulau Merah, Pantai Sukamade, Pulau Tabuhan, Taman Nasional Baluran, dan lain-lain. Selain keindahan alam yang memanjakan mata, adapula kegiatan pariwisata budaya yaitu Festival Ngopi Sepuluh Ewu, Festival Kuwung, Banyuwangi Batik Festival, dan sebagainya. berbagai tempat wisata ini dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat sekitar objek wisata.  

Penulis : Wiganda
Mahasiswa Pendidikan Geografi 2015
Universitas Pendidikan Indonesia 

Film Pendek Media Pembelajaran Geografi

MEDIA AUDIO VISUAL FILM SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN Materi Pembelajaran : Materi Keragaman Budaya  Wiganda 1500461  Menurut Sukm...